Kamis, 11 Juni 2009

Refleksi Koalisi Partai Politik Dalam Menapak Kursi Presiden Dan Wakil Presiden

Partai politik adalah sebuah organisasi yang terartikulasi secara lokal, yang berinteraksi dan berusaha untuk mencari dukungan pemilih kebanyakan, yang memainkan peran langsung dan subsantif didalam rekrutmen politik, serta mempunyai komitmen yang kuat untuk mendapatkan kekuasaan atau menjaga kekuasaan, baik secara sendiri atau dengan jalan berkoalisi. Partai politik mempunyai tugas utama untuk mengagregasikan berbagai macam kepentingan yang terdapat didalam masyarakat untuk selanjutnya dikomunikasikan kepada pemerintah dan disosialisasikan dalam bentuk berbagai macam kebijakan pemerintah demi terciptanya tatanan kehidupan yang lebih baik didalam masyarakat yang modern dan demokratis. Selain itu partai politik juga mempunyai peranan yang sangat besar didalam proses rekrutment politik demi berjalannya proses politik didalam masyarakat[1].

Indonesia adalah sebuah contoh masyarakat yang sangat heterogen sehingga memberikan pengaruhnya yang sangat besar terhadap proses politik.. Indonesia yang mempunyai berbagai macam suku, bahasa, agama, tradisi serta kebudayaan yang berbeda-beda merupakan contoh sempurna dari masyarakat heterogen..

Sehingga tidak adanya satu kekuatanpun yang mampu mendominasi jalannya proses politik yang demokratis di Indonesia tanpa harus melakukan koalisi dengan kelompok lain, sehingga indikasi kecenderungan kehidupan politik koalisi didalam proses politik Indonesia untuk beberapa waktu yang akan datang sangat dimungkinkan.

Koalisi yang baik bisa tercipta apabila setiap elite politik yang memperjuangkannya harus benar-benar memperjuangkan dan membangun koalisi yang paling tidak memiliki satu ideologi dan pandangan yang sama, namun koalisi ideal ini bisa dikatakan sangat sulit karena dalam melakukan setiap hubungan politik pasti kepentingan politik juga ikut bermain.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah partai politik yang seharusnya merefleksikan dan merupakan miniyatur dari rakyat yang sangat rentan dan sensitive terhadap perbedaan ideologi, namun elit politik seakan melihat perbedaan ini biasa saja.

Contohnya saja Demokrat dengan PKS boleh dikatakan ideologi yang dianut sangat berbeda yang mana PKS yang berideologi islam (walau sekarang mengatakan dirinya sebagai partai terbuka) berkoalisi dengan demokrat yang berideologi kapitalis dan sekuler. Yang pada pahan ideologi saling bertolak belakang.

Realitas koalisi politik dan berbagai peluang koalisi baru, nampaknya tidak banyak mengalami hambatan dan tantangan, termasuk perbedaan ideologi. Tidak heran jika Golkar mengakui diri seperti ”gadis cantik” yang siap berkoalisi dengan kelompok mana saja[2].

Di negara kampiun demokrasi seperti Amerika Serikat (AS) saja yang menganut paham liberalisme, ada dua pendekatan yang berbeda, yakni antara konservatisme yang dianut Partai Republik dan liberalisme altruistik yang dianut Partai Demokrat[3],

Sehingga sangat menarik sekali melihat realitas para elit partai politik kemana koalisi-koalisi nantinya akan dibawanya. Namun sebelum pengumuman hasil perolehan suara akhir segala sesuatu bisa saja terjadi dan bisa saja berubah sampai ditutupnya pendaftran presiden dan wakil presiden.



[1] Anonim. Koalisi Politik: Refleksi Politik Masyarakat Heterogen

[2] Anonim. Koalisi politik yang ideal. Monday, 2 March 2009

[3] Ikrar Nusa Bhakti. Koalisi Politik Tanpa Ideologi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar