Sabtu, 17 Januari 2009

Gaza Menunjukkan Bahwa Demokrasi Bukanlah Solusi Bagi Kaum Muslim


Sejak Israel secara terbuka menghancurkan semua symbol-simbol pemerintahan Hamas di Gaza baik secara militer dan politik, dan secara bersamaan melakukan pembantaian yang tidak pandang bulu atas anak-anak yang tidak berdosa dan kaum perempuan, maka demokrasi di negeri Muslim, menjadi korban yang mencolok yang tidak dikehendaki.

Bagi Israel dan kelompok penggembira-nya di Barat hal ini kecil artinya, bahwa Hamas telah melakukan pemilihan umum yang demokratis untuk mengganti pemerintahan Fatah yang berkuasa di Gaza pada tahun 2006. Hamas dan Fatah kemudian tampil di pemerintahan dan saling berkelahi dengan melakukan pembunuhan dan mengakibatkan kematian di kedua belah pihak, dan akhirnya mempertentangkan kaum Muslim di Palestina.

Barat dan Israel sepertinya ingin menyatakan bahwa demokrasi sejalan dengan otoritas moral mereka atas bangsa-bangsa lain namun dengannya pula mereka secara nyata menumbangkan hak demokratis Hamas untuk memerintah Gaza. Jelas bagi barat hanya orang-orang demokrat, seperti Mahmoud Abbas lah, yang bisa dimanipulasi, dikontrol atau dipaksa, yang dapat diterima.

Gaza bukanlah contoh pertama bagaimana demokrasi telah membuat gagal kaum Muslim. Di Aljazair, Front Penyelamatan Islam (Islamic Front Salvation –FIS) yang mencoba menerapkan Shariah melalui demokrasi, memenangkan pemilihan putaran pertama pada bulan Desember 1991 dan nyaris menang tatkala pemerintah, yang jelas-jelas didukung Perancis dan Barat, membatalkan pemilu putaran kedua. Lalu terjadi perang saudara diantara kaum Muslim dimana ratusan ribu orang mati.

Pemerintahan demokratis yang ada sekarang telah berkolusi dengan Barat untuk menyerang dan membunuh warga negaranya sendiri, mengkrompromikan keamanan dan kedaulatan negaranya dengan negara lain dan telah melakukan kegagalan yang menghinakan dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar dari orang-orang miskin yang hampir putus asa.

Demokrasi dan Sekuler telah berulang kali gagal untuk menghasilkan setiap perubahan positif yang signifikan bagi umat Islam. Demokrasi adalah alat politik yang digunakan untuk memanipulasi dan meredam tantangan yang fundamental atas status quo yang sekuler. Visi demokratis adalah pemecah belahan dimana umat tetap terperangkap dalam negara-negara terpisah. Demokrasi mempertentangkan kaum muslim dan mengadu domba sesama muslim yang seringkali menyebabkan kematian. Akhirnya, demokrasi adalah sebuah kontradiksi langsung atas ide ummat dan kesatuan Islam

Allah berfirman
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (TQS Al-Imran: 103)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar